EMOTIONAL WELLNESS
Semua juga tahu
kesehatan itu mahal harganya, jadi kenapa kamu tidak mulai berinvestasi
untuk dirimu sendiri? Investasi yang dimaksud tentunya adalah dengan
memberikan yang terbaik untuk tubuhmu. Mulailah dengan
mengonsumsi makanan bergizi. Asupan karbohidrat, vitamin, protein,
mineral, dan zat yang penting untuk tubuh secara seimbang akan membuatmu
bugar dan sehat. Badan yang sehat akan mendukung semua aktivitas
harianmu. Jangan salah, apa yang kita konsumsi saat ini bisa jadi modal
untuk menguatkan tubuh atau malah membuatnya jadi loyo.
Tugas besar #MillennialBEST salah satunya adalah dengan memahami
pentingnya asupan gizi dari makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Tahukah kamu bahwa ada kondisi kurang gizi kronis karena pemberian
makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang disebut stunting?
Keadaan ini sudah terjadi sejak bayi di dalam kandungan sampai kemudian
nampak ketika anak berusia sekitar dua tahun.
Selain untuk kesehatan fisik, tentunya kita juga harus memikirkan dan menjaga kesehatan mental/emosional kita (emotional wellness). Emotional wellness adalah kesehatan emotional yang berhubungan dengan kejiwaanmu. Bagaimana menghandle
aneka pikiran baik positif maupun negatif, perasaan, dan perilaku.
Terdengar sederhana ya, tapi sakit emosional - sakit jiwa, bisa
menghancurkan hidupmu.
Ya, jiwa yang sehat akan membuatmu selalu
hidup sehat juga. Menciptakan pikiran yang positif dan selalu optimis itu
tidak udah, tapi bukan berarti kamu tidak bisa belajar untuk
menciptakannya. Mulailah membaca atau mengikuti kelas-kelas yang mampu
membuatmu mengolah perasaan dan pikiranmu dengan cara yang sehat. Ingat
selalu, jiwa yang sakit sama bahayanya dengan penyakit jasmani yang
mematikan.
Salah satu gangguan dan ancaman terhadap kesehatan emosional yang jarang terjadi yaitu stres dan depresi. epresi adalah gangguan yang terkait dengan gejala utama seperti
meningkatnya kesedihan dan kecemasan, kehilangan nafsu makan, suasana
hati yang tertekan, serta hilangnya minat dengan kegiatan yang
menyenangkan. Jika tidak ada intervensi yang tepat waktu, gangguan ini
dapat menyebabkan berbagai konsekuensi. Pasien yang menderita depresi
menunjukkan kecenderungan bunuh diri. Stres hingga depresi merupakan masalah psikologi yang biasanya ditangani
dengan konseling ataupun secara medis dengan obat antidepresan, namun
ada hal lain yang turut berperan terhadap timbulnya stres yaitu asupan
gizi. Banyak orang menyadari hubungan antara gizi dengan penyakit fisik,
namun masih sedikit yang menyadari adanya hubungan gizi dengan depresi.
Menurut prediksi WHO, depresi akan menjadi penyebab penyakit kedua
terbesar di seluruh dunia. Stres psikososial yang berlanjut terus
menerus tanpa diselingi dengan periode pemulihan yang mencukupi dapat
menimbulkan gejala-gejala depresi dan mengakibatkan menurunnya daya
tahan tubuh, rentan terhadap infeksi, meningkatkan risiko alergi,
burnout syndrom (keletihan emosional, depersonalisasi, berkurangnya
perhargaan pada diri sendiri), berat badan berlebih, gangguan saluran
pencernaan, hipertensi, penyakit jantung koroner, migrain dan kanker.
Gizi memiliki peran penting terhadap terjadinya depresi, hingga
durasi dan tingkat keparahannya. Ketidakseimbangan gizi berhubungan
dengan risiko mudah atau tidaknya seseorang mengalami depresi.
Depresi umumnya menyebabkan penderitanya cenderung memiliki nafsu
makan yang buruk, melewatkan jam makan, dan dominan memilih makanan dan
minuman yang manis. Salah satu faktor yang sering mendasari terjadinya
stres adalah buruknya pengendalian kadar gula dalam darah.
Gejala-gejala gangguan pengendalian kadar gula dalam darah
diantaranya adalah kelelahan, mudah marah, pusing, sulit tidur,
konsentrasi yang buruk dan depresi. Untuk meningkatkan toleransi stes,
disarankan memilih jenis karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik
yang rendah dan tinggi serat seperti beras merah, oat, roti gandum utuh
dan mengurangi jenis karbohdirat sederhana seperti produk-produk yang
dimaniskan dengan gula.
Selain akibat buruknya pengendalian kadar gula dalam darah, bila
dicermati lebih jauh umumnya asupan gizi penderita depresi tidak
mencukupi kebutuhan. Kekurangan zat gizi yang paling umum terlihat pada
penderita gangguan mental adalah kekurangan asam lemak omega-3.
Asupan asam lemak omega-3 berperan dalam pencegahan beberapa gangguan
termasuk depresi. Kekurangan asam lemak omega-3 dapat mempercepat
penuaan otak.Otak merupakan organ yang memiliki kadar lemak tertinggi dibandingkan
dengan organ-organ lainnya. Lemak di otak terdiri dari asam lemak yang
memiliki fungsi sebagai komponen struktural membran otak. Diperkirakan
mengandung 50% asam lemak tak jenuh ganda dimana sekitar 33%-nya
merupakan asam lemak omega-3 dan bersifat esensial atau hanya diperoleh
dari asupan makanan.
Penurunan konsumsi asam lemak omega-3 dari ikan seperti ikan salmon,
tenggiri dan tuna serta sumber-sumber lain meningkatkan kecenderungan
depresi. Dua asam lemak omega-3, yaitu asam eikosapentaenoat
(eicosapentaenoic acid, EPA) dan asam dokosaheksanoat (docosahexaenoic
acid, DHA), yang ditemukan dalam minyak ikan, menimbulkan efek
antidepresan pada manusia. Data epidemiologis dan studi klinis telah
menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 dapat secara efektif mengobati
depresi.
Direkomendasikan untuk konsumsi 0,65 gram omega-3 setiap harinya
untuk asupan harian yang memadai. Ikan haring (1700 mg/100 g), Ikan
sarden (1400 mg/100 g) dan ikan salmon (1600 mg/100 g) merupakan makanan
sumber omega-3. Dengan penyajian 2 sampai 3 kali per minggu dapat
memberikan sekitar 1 gram asam lemak omega-3 setiap harinya. Minyak ikan
mengandung 30 hingga 35% asam lemak omega-3 (3 gram minyak ikan
mengandung 1 gram asam lemak omega-3) dan mengandung hingga 85% EPA/DHA.
Umumnya 1 kapsul minyak ikan mengandung 180 mg EPA dan 120 mg DHA.
Dosis harian yang disarankan untuk beban mental yang sangat tinggi dan
stres adalah 1-3 gram omega 3.
Konsumsi makanan laut seperti ikan tergolong rendah di Indonesia.
Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan
Ikan (Gemarikan) menetapkan target konsumsi ikan di Indonesia pada tahun
2019 adalah 55 kg per kapita per tahun. Pada tahun 2018 konsumsi ikan
di Indonesia sebesar 50,69 kg per kapita per tahun. Masih tergolong
rendah dibandingkan negara-negara tetangga, seperti Malaysia (70 kg per
kapita tahun) dan Singapura (80 kg per kapita per tahun), dan jauh di
bawah negara Jepang yang hampir 100 kg per kapita per tahun.
Selain zat gizi omega-3, penderita depresi umumnya kekurangan asupan
vitamin B. Kondisi ini diperparah dengan kecendrungan penderita depresi
akan makanan dan minuman yang manis. Konsumsi gula yang berlebihan
memerlukan banyak vitamin B untuk proses katabolisme (pemecahan) gula
dalam tubuh. Padahal vitamin B yang cukup sangat penting fungsinya untuk
menjaga suasana hati. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin sehari-hari kita
membutuhkan daging merah, telur, aplukat dan berbagai sumber vitamin B
lainnya.
Kekurangan zat gizi lain yang umum terjadi pada penderita depresi
adalah kekurangan vitamin C. Penderita depresi terpapar dengan stres
oksidatif dan ditemukan penurunan vitamin C dalam darahnya. Vitamin C
adalah salah satu antioksidan terpenting dalam tubuh dan memberikan
perlindungan terhadap stres oksidatif. Otak merupakan salah satu organ
yang memiliki kandungan vitamin C tertinggi dalam tubuh.
Kandungan vitamin C dalam otak 10 kali lebih banyak dibandingkan
kandungan vitamin C dalam darah. Vitamin C disimpan oleh sel-sel otak
berperan dalam membentuk neurotransmitter. Kekurangan neurotransmitter
berhubungan dengan depresi sehingga kekurangan vitamin C dapat
menyebabkan gangguan saraf termasuk depresi. Vitamin C dapat kita
peroleh dari makanan-makanan tinggi kandungan vitamin C seperti jambu
biji, jeruk, pepaya dan brokoli.
Sumber :
https://www.alodokter.com/memilih-minuman-diet-dari-jus-buah-dan-sayur-ini-faktanya
https://www.wartaekonomi.co.id/read251102/hari-kesehatan-jiwa-sedunia-gizi-untuk-stres-dan-depresi/0
https://www.idntimes.com/health/fitness/silvana-devinta-sari/kamu-cuma-perlu-6-hal-ini-untuk-jadi-millennial-sehat-c1c2/full


1 komentar:
OMAGAHHHHHHHH!!!!!!
Posting Komentar